Apa kata Safir Senduk tentang Asuransi :

Apa kata Safir Senduk tentang Asuransi :

Sabtu, 22 Maret 2014

Prita E Gozhi


Siapa Perlu Asuransi Jiwa?

From The Desk of Prita Hapsari Ghozie

Pernahkah anda mendapatkan tawaran untuk membeli polis asuransi jiwa dari agen asuransi? 99% dari orang yang saya tanya pernah mendapatkan tawaran yang serupa. Namun, sayangnya masih banyak orang yang menolak untuk membeli polis atau memiliki polis yang Uang Pertanggungannya dibawah kebutuhan (underinsured).


Hard fact: Kita membeli suatu produk yang kita harapkan tidak pernah dipakai.

Hasil akhirnya, lebih dari 50% memutuskan tidak punya polis asuransi jiwa. Sounds familiar? Sebenarnya siapa saja yang butuh asuransi jiwa?


Asuransi Jiwa

{mosimage}Asuransi Jiwa adalah polis asuransi yang membayar manfaat atas kematian kepada penerima tanggungan (beneficiaries) apabila tertanggung meninggal dunia. Produk ini dibentuk untuk memberikan perlindungan kepada keluarga yang menjadi tanggungan finansial anda.

Apabila anda mengalami kematian atau cacat permanen yang menyebabkan hilangnya penghasilan, polis asuransi jiwa dapat membantu untuk menutupi sebagian, jika tidak semua, dari penghasilan anda. Namun, tentu saja bagaimana polis tersebut dapat membantu bergantung kepada jenis perlindungan yang anda beli.

Itulah sebabnya membeli polis asuransi jiwa seperti membeli suatu produk yang kita harapkan tidak pernah dipakai. Karena tentu saja kita mengharapkan kematian itu tidak terjadi dan rasanya sangat tabu untuk memperkirakan kapan kematian itu akan datang.


Apakah Saya Butuh Membeli Polis?

Kebutuhan asuransi jiwa sangat bergantung kepada situasi masing-masing individu. Untuk banyak orang, asuransi jiwa menjadi bagian yang sangat penting dari perencanaan keuangan.

Apabila anda sudah berkeluarga atau memiliki orang yang menjadi tanggungan anda, maka hampir dipastikan anda butuh membeli polis. Apalagi bila penghasilan anda sangat signifikan dan digunakan untuk menyokong biaya hidup sehari-hari, membayar kredit atau tagihan rutin, dan membayar uang pendidikan.

Apabila anda tidak memiliki tanggungan atau penghasilan anda tidak begitu signifikan kontribusinya ke keuangan keluarga, anda mungkin tidak perlu membeli polis.

Alright, sekarang lebih baik kita lihat panduan berikut ini untuk mengetahui apakah sebenarnya anda perlu membeli polis asuransi jiwa.


  • Lajang usia muda

Bila anda saat ini rutin memberikan bantuan kepada orang tua atau keluarga lain, maka anda membutuhkan polis untuk melindungi orang-orang terdekat yang anda ingin masih mendapatkan bantuan tersebut. Selain itu, anda juga butuh perlindungan untuk menutupi biaya kesehatan bila ternyata anda terkena penyakit keras sebelum terjadi kematian, biaya pemakaman, atau bila anda masih memiliki tunggakan kredit dan hutang lainnya. Apabila anda merasa tidak perlu meneruskan bantuan rutin yang diberikan kepada keluarga, maka anda tidak perlu membeli polis.


  • Pasangan muda

Anda harus membeli polis sekarang terutama bila anda berencana untuk memiliki anak. Biaya premi saat ini tentu saja masih lebih murah dibandingkan bila anda baru membeli polis beberapa tahun lagi.


  • Keluarga muda dan mapan

Bila anda memiliki tanggungan yang sangat bergantung kepada penghasilan anda, maka anda wajib membeli polis. Anda tentu saja tidak mau keluarga menjadi terlantar bila terjadi kehilangan penghasilan dari kontributor utama. Jumlah uang pertanggungan yang harus anda beli sangat bergantung dari perkiraan biaya hidup tanggungan yang ditinggalkan. Selain itu, penghasilan dari pasangan juga sangat menentukan.


  • Pasangan bekerja tanpa anak

Anda harus membicarakan dengan pasangan apakah masing-masing merasa nyaman dengan penghasilan sendiri bila kelak ditinggalkan oleh pasangan. Bila masing-masing pasangan memiliki kontribusi yang sama besar terhadap keuangan keluarga, maka kemungkinan anda belum butuh membeli polis. Karena bila pasangan anda meninggal dunia, biaya hidup anda pun berkurang dengan jumlah yang sama besar. Namun, bila salah satu pasangan memiliki kontribusi lebih besar dan ingin meninggalkan pasangannya kelak dengan keuangan yang mapan, maka anda butuh membeli polis.


  • Keluarga usia pensiun

Apabila anak-anak anda sudah mandiri dan telah dapat menyokong hidupnya sendiri dan tidak ada orang lain yang menjadi tanggungan, maka pada tahap ini anda tidak butuh membeli polis baru. Namun, bila anda masih punya tanggungan, maka anda harus mempertimbangkan untung ruginya membeli polis baru. Biaya premi di usia 50an akan cukup mahal. Sehingga, anda perlu mempertimbangkan apakah anda memiliki harta-harta yang kelak dapat dijual oleh keluarga yang ditinggalkan tanpa mempengaruhi kondisi yang saat ini ada. Contohnya anda memiliki 2 bidang tanah dan 1 rumah yang tidak ditempati untuk hidup, maka harta ini kelak dapat menjadi semacam pengganti uang pertanggungan dari polis.



Penutup


Jadi, sekarang saya harap anda sudah dapat mengetahui apakah anda butuh untuk membeli polis asuransi jiwa. Namun, hal yang perlu diingat adalah membayar premi merupakan kebutuhan sekunder setelah biaya hidup utama yang sifatnya primer seperti makan, biaya utilitas, dan biaya utama lainnya. Sehingga, jangan pernah membeli polis asuransi bila anda belum mampu untuk melakukannya.

Darimana anda dapat mengetahui apakah anda mampu atau tidak? Coba diskusikanlah hal ini dengan konsultan kami di ZAP Finance.

Semoga Bermanfaat.

http://zapfinance.co.id/2012/10/29/siapa-perlu-asuransi-jiwa/





Yuk Hitung Kebutuhan Uang Asuransi


Proteksi atas kondisi finansial seseorang adalah salah satu bagian penting dari perencanaan keuangan. Untuk kebutuhan proteksi, maka produk keuangan yang sesuai adalah Asuransi. Dalam hal memproteksi kondisi finansial atas resiko terjadinya kematian, maka jenis asuransi yang harus dimiliki adalah asuransi jiwa.
Dengan membeli asuransi jiwa, maka jika terjadi kematian pada pemilik polis, ahli waris yang ditunjuk akan mendapatkan klaim penggantian uang sebesar nilai pertanggungan. Berdasarkan pengalaman saya selama ini, kesalahan terbesar dari masyarakat adalah membeli polis asuransi jiwa dengan nilai pertanggungan jauh dari ideal.
Idealnya, nilai pertanggungan merupakan penambahan dari biaya-biaya berikut ini.
  1. Biaya kematian: termasuk biaya pemakaman, biaya notaris, biaya rumah sakit (antisipasi) kematian karena sakit.
  2. Biaya pendidikan anak: hitunglah berapa kebutuhan biaya pendidikan anak-anak, terutama untuk biaya kuliah.
  3. Biaya hidup keluarga yang ditinggalkan: apabila pasangan Anda bekerja, maka hitunglah persentase kontribusi penghasilan Anda yang memang digunakan untuk membiayai hidup keluarga. Misal penghasilan Anda 10 juta, namun hanya terpakai 8 juta untuk biaya hidup keluarga. Maka, persentase yang digunakan adalah 80% atas biaya hidup keluarga selama 10 tahun kedepan.
Nah, apabila penjumlahan poin 1 hingga 3 misalnya mencapai angka 1 Milyar, maka coba periksa berapa jumlah aset lancar yang Anda miliki. Selisihnya akan menjadi nilai pertanggungan asuransi jiwa yang Anda butuhkan. Yuk, kita hitung kebutuhan asuransi jiwa masing-masing.
Live a Beautiful Life!

CUKUPKAH ASURANSI?
Menurut Prita Ghozie, SE, CFP® dari ZAP Finance, ada dua jenis asuransi yang harus dimiliki individu, yaitu asuransi kesehatan dan asuransi jiwa. “Masing-masing berbeda kegunaannya. Asuransi kesehatan adalah proteksi untuk Anda saat masih hidup, sedangkan manfaat asuransi jiwa akan dirasakan oleh orang-orang yang ditinggalkan saat pemilik asuransi meninggal dunia. Asuransi jiwa pun hanya diperlukan jika ia breadwinner keluarga dan memiliki tanggungan, bisa anak, suami, adik, kakak, hingga orang tua,” jelas Prita. 

Mengenai besarnya premi, saran Prita, maksimal 5% dari penghasilan bulanan. Kalau punya beragam asuransi, berarti 5% itu harus dibagi-bagi untuk semua asuransi tersebut. “Jadi kalau penghasilan Rp6 juta, berarti pilih yang preminya tidak lebih dari Rp300.000 per bulan. Atau kalau dibayar tahunan menjadi sekitar Rp3,6 juta,” ungkap Prita lagi. 

Lalu, bagaimana kita bisa tahu asuransi mana yang memenuhi keperluan kita? Misalnya saja, awalnya kita membeli asuransi dengan premi Rp4 juta per tahun, tapi ternyata ketika jatuh sakit dan harus dirawat, semua manfaat asuransi dan tabungan kesehatan sudah habis terpakai. Apakah mungkin kita menambah preminya?

“Prinsip asuransi adalah melihat tingkat risiko. Kalau seseorang memiliki asuransi dan tingkat klaimnya tinggi, biasanya agak sulit jika ingin menaikkan benefit atau manfaat pertanggungannya, karena orang ini justru dinilai berisiko tinggi,” ungkap Prita. 

Satu-satunya jalan, mencari dana dari tempat lain. Kalau penyakit yang diderita cukup berat, dan dana kesehatan sudah habis, mau tidak mau kita harus melihat aset investasi yang tersedia. “Ini adalah masalah prioritas. Jika Anda sudah menyiapkan investasi pendidikan anak dan liburan, namun tidak untuk kesehatan, mau tidak mau gunakan investasi yang ada dulu,” tegas Prita.

Karena itu, saat menentukan asuransi kesehatan mana yang akan dipilih, ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan. “Cek apa saja penyakit yang bisa di-cover, lalu apakah agennya menanyakan penyakit bawaan kita,” kata Prita. 
Misalnya, Anda punya penyakit asma, dan pernah dirawat di rumah sakit dengan diagnosis asma. Sampai kapan pun, bila penyakit itu kambuh, tidak akan di-cover. 
“Karena perusahaan asuransi tahu Anda berisiko tinggi dirawat di rumah sakit karena penyakit itu. Jadi, asuransi sebenarnya hanya mau meng-cover seseorang kalau orang ini dianggap bakal sehat,” tambahnya. 

Lalu, apakah kita perlu asuransi penyakit kritis? Memang, ada orang yang baru membayar premi 1 tahun lalu terkena penyakit kritis, otomatis ia akan mendapat manfaatnya. “Namun, seberapa besar probabilitas seseorang terkena penyakit kritis?” tanya Prita. 

Cara mengetahuinya, dengan melihat riwayat penyakit keluarga. Jika anggota keluarga Anda ada yang menderita penyakit kritis, seperti stroke, penyakit jantung, atau diabetes, Anda bisa memanfaatkan asuransi ini, karena Anda punya risiko terserang penyakit tersebut. “Perlu atau tidak asuransi kesehatan untuk penyakit kritis, jika memang dari uang bulanan masih longgar, silakan saja ambil,” jelas Prita. 

Ada juga jenis asuransi yang dijual dengan investasi. Selain memberikan perlindungan jiwa, asuransi ini memiliki manfaat tambahan, seperti asuransi kesehatan, penyakit kritis, dan investasi. Biasanya preminya lebih mahal. 
Untuk asuransi jenis ini, Anda harus teliti sebelum membeli. Baca baik-baik bagaimana cara kerjanya serta manfaat tambahannya. “Intinya, Anda harus ingat, utamanya, asuransi adalah produk proteksi, bukan investasi,” ungkap Prita.
Instrumen lain yang perlu dipikirkan adalah investasi. Mungkin perlu dibuat tersendiri investasi untuk dana kesehatan keluarga. Bukan hanya untuk diri kita sendiri, tetapi juga keluarga besar.  “Yang terpenting, Anda harus punya ‘investasi’ berharga, yakni, menjaga gaya hidup sehat,” tutup Prita.