Apa kata Safir Senduk tentang Asuransi :

Apa kata Safir Senduk tentang Asuransi :

Sabtu, 22 Maret 2014

Ligwina Hananto






ASURANSI JIWA APA YANG SEBAIKNYA SAYA MILIKI?



Asuransi adalah proteksi atau perlindungan.
Asuransi jiwa adalah asuransi yang melindungi ’nilai ekonomis’ seseorang, apabila terjadi meninggal terhadap tertanggung.
Artinya jika terjadi sesuatu kepada si tertanggung, ahli warisnya akan menerima sejumlah dana (Uang Pertanggungan) yang besarnya sebaiknya cukup untuk digunakan selama 10-20 tahun ke depan.
Oleh karena itu hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membeli produk Asuransi adalah:
1. Premi : biaya yang dikeluarkan untuk membeli produk Asuransi. Biayanya harus efisien, artinya tidak boleh terlalu mahal, karena kita masih perlu berinvestasi lebih besar agar tujuan-tujuan finansial lain dapat tercapai.
2. Uang Pertanggungan : dana yang diterima apabila terjadi meninggal terhadap pemegang polis. Besarnya dana ini harus cukup untuk digunakan selama 10-20 tahun.
3. Lama Periode : lamanya periode tertanggung oleh Asuransi adalah selama masa produktif seseorang (10-20 tahun tergantung usia mulai membeli asuransi). Apabila sudah berusia 55 tahun, sebaiknya sudah memiliki dana yang cukup besar untuk menjadi harta warisan, sehingga jika terjadi meninggal tidak mengandalkan lagi dana dari asuransi.
Untuk ini, produk jenis Asuransi Term Life adalah produk yang paling cocok untuk dimiliki setiap orang. Preminya relatif murah, Uang Pertanggungan dapat lebih besar, dan lama periode bisa diatur 10-20 tahun.
Semua orang HARUS memiliki produk Asuransi, tapi harus yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.




CATET : Saya Ligwina Hananto, Saya tidak membeli Asuransi Unit Link


Ada beberapa ’teman’ yang tanya kenapa saya TIDAK BELI unitlink. Banyak banget alasannya Boss :).
Mungkin ya… kalau ada teman-teman yang mau seperti saya :P  jawaban seperti di bawah ini bisa membantu heuheuheu…
Mbak, produk kami adalah produk unitlink dari perusahaan ternama XYZ.
Gak mau Mas, saya gak perlu unitlink.
Tapi kan perlu investasi Mbak.
Sudah investasi dong Mas. Untuk investasi saya pakai beberapa Reksadana, beberapa bisnis, properti dan saham.
Tapi reksadana kan ada risikonya Mbak.
Unit investasi dalam unitlink itu kan reksadana juga Mas. Resiko investasinya sama saja, tergantung jenis instrumen di dalamnya.
Unitlink kan ada asuransinya… dengan 1 juta / bulan, UP nya besar lho Rp 280 juta.
No thank you. Rp280 juta gak cukup Mas. Itu cuma seharga mobil suami saya. Masak nilai nya suami saya disamain sama mobilnya?
Kami sudah fully covered Mas, Uang Pertanggungannya Rp 1M, cuma bayar Rp 4 juta / tahun. Uang Pertanggungan Rp 4M, cuma bayar Rp 13 juta /tahun. Jauh kan?
(FYI, asuransi jiwa term life 10 tahun untuk seseorang berusia sekitar 30 tahun, dengan Uang Pertanggungan di bawah Rp 400 juta, paling-paling preminya hanya Rp 750 ribu / tahun)
Dalam unitlink ada waiver dan rider yang sangat berguna lho Mbak. Jadi kalau ada apa-apa dan tidak dapat membayarkan premi nya lagi, perusahan asuransi akan melanjutkan investasinya. Jadi di tahun ke 13, uang sekolah S1 nya dapat tetap tercapai.
UP asuransi jiwa kami sudah sangat memadai. Jadi kalau ada apa-apa, justru UP ini yang harusnya langsung keluar, gak usah nunggu 13 tahun lagi dan kami investasikan kembali sekarang. (Money today is worth more than money 13 years from now!) Target dana S1 anak saya 13 tahun lagi Rp 1,5 M, kalau UP nya
4M artinya didepositokan juga sudah cukup.
Kalau sampai perusahaan asuransinya gak mau membayarkan klaim dengan UP jiwa ini pun, aset yang ada masih dapat dikelola agar menghasilkan nilai yang optimal.
Yang ini ada investasinya lho Mbak.
Unit investasi dalam unitlink itu sama saja dengan reksadana. Jadi investasinya langsung aja di reksadana Mas. Jadi kalau  Investasinya Rp 500ribu per bulan atau Rp 6 juta /tahun. Terus asuransinya dibeli terpisah dengan asuransi jiwa term life 10 thn (beserta asuransi kecelakaan), UP Rp 1 M, premi Rp 4 juta /tahun. Jadi dengan bayar Rp 10 juta / tahun saya dapat UP lebih besar, investasi saya di reksadana cuma dipotong 0% – 2% subscription fee. Tadi Mas kasih saya ilustrasi Rp 12 juta /tahun, UP cuma Rp 280 juta, unit investasi dipotong fee 5% dan tahun-tahun pertama gak langsung masuk ke unit investasinya.
Oh Term life, itu kan traditional Mbak. Kami udah gak jual itu.
Kenapa dong gak mau jual? Mau traditional atau modern gak masalah Mas. Yang penting produknya membuat Financial Plan saya efisien. Dengan mengeluarkan uang yang lebih sedikit, saya dapat lebih banyak coverage dan unit investasi yang saya dapatkan lebih banyak, gak dipotong-potong fee terlalu banyak. Ini belum ngomongin return lho.
Term life kan gak ada nilai tunainya Mbak? Terus kalau sudah tua, umur 55 misalnya, jadi mahal kan preminya Mbak.
Saya perlu asuransi jiwa untuk perlindungan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Saya tidak beli asuransi untuk cari nilai tunai. Semua nilai tunai tercapai dengan investasi yang sistematik. Saya membuat Financial Plan keluarga saya lengkap dengan Dana Darurat dan investasi dibagi berdasarkan tujuan. Jadi keperluan asuransi pun harus direview tiap tahun.
Umur 55 tahun harusnya sudah siap dengan dana pensiun dong. Jadi gak perlu lagi asuransi jiwa. Kalau pun belum punya dana pensiun, anak-anak harusnya sudah besar-besar. They should take care of themselves, gak perlu lagi nilai tunai atau Uang Pertanggungan asuransi jiwa dari kami. Umur segitu yang saya perlukan jadinya asuransi kesehatan untuk pensiunan dan Dana Pensiun dalam jumlah besar.
Betul Mbak, kesehatan penting sekali. Yang ini ada untuk penyakit kritisnya Mbak. 40 penyakit kritis yang dicover.
Permisi ya… coba deh periksa di polis asuransi yang sudah jadi. Asuransi penyakit kritis ini gak akan langsung keluar begitu kena diagnosa. Fungsi asuransi penyakit kritis ini fungsinya seperti asuransi kecelakaan : untuk menggantikan hilangnya penghasilan karena ketika kena penyakit kritis kita gak bisa bekerja normal lagi. Bukan untuk mengobati. Jadi kalo kena diabetes, masih bisa hidup 7 tahun lagi, ya gak keluar tuh UP penyakit kritisnya. Gagal ginjal kedua-duanya dan tidak bisa transplan lagi, baru keluar UP penyakit kritisnya. Stroke, keluar UP nya. Kanker, stadium 4 baru keluar UP nya.
Jadi kalau kena penyakit kritis gimana dong Mbak?
Harusnya Dana Daruratnya ada tuh Mas kalo cuma mau Rp 280 juta. Kalau kuatir dengan bagaimana mengobati penyakit kritis, kita perlu asuransi kesehatan yang bagus banget – yang mau bayarin biaya berobat rutin untuk penyakit kronis.
Terutama yang ada guarantee renewability nya. Nah di Indonesia belum ada aturan yang mengharuskan guarantee renewability, jadi mending ambil asuransi kesehatan yang premium, udah ada kok dari luar negeri. Tinggal dibandingkan mana yang prioritas, beli asuransi premium ini atau investasi. Premi asuransi kesehatan premium itu berkisar antara US$700-US$7000, dengan benefit pembayaran jika sakit yang aduhai juga.
Yang syariah juga ada lho Mbak
(may be it’s the jilbab thing hehehe)
Mas, bukan soal syariah gak syariahnya. Tapi struktur produk unitlink nya ini yang gak nyambung sama sekali dengan Financial Plan saya. Kalau mau cari produk syariah, reksadana juga banyak yang syariah.
Return unitlink tinggi lho Mbak.
Kalau mau return tinggi, justru jangan di unitlink Mas. Reksadana Saham tuh resiko tinggi, return juga sekarang lagi tinggi. Sama kan unitlink juga punya kok reksadana saham, disebutnya equity fund, padahal sama aja. Jadi tinggal liat, hayo berapa return equity fund nya?
Itu kan cuma urusan MI mana yang lebih jago aja. Jadi siapa MI nya?
Schroders, Fortis, Manulife, Trimegah, Danareksa? MI-MI itu semua jual reksadananya sendiri lho, beli langsung atau lewat bank juga bisa, subscription fee nya juga lebih rendah 0%-2%, di unitlink 3%-5% kan? Coba deh cek siapa MI nya. Kalau MI ini gak jual reksadananya (baca: unit investasi dari unitlink) kecuali lewat asuransi yang sister companynya, malah gawat dong. Artinya distribusinya terbatas sekali. Ya simple aja, bandingin  Performance nya dengan MI lain. Kita mempercayakan dana kita dikelola oleh MI, ya harus mau membandingkan MI-MI ini dong.
Tapi, ngapain saya beli reksadananya Schroders, Manulife, Fortis atau Danareksa lewat asuransi kalo saya bisa beli langsung ke mereka atau lewat bank?
(FYI periksa performance MI di unitlink dan reksadana. Harusnya dalam 3 tahun terakhir equity fund dari unitlink dan reksadana dapat menghasilkan return > 40% per tahun. Jadi kalau ada MI yang equity fund nya di tahun 2005 hanya menghasilkan 14%…. tanya kenapa! Yang bener aja, diputerin ke mana tuh uangnya, ngaku aja equity fund, jangan-jangan isinya bukan saham. Gawat gak tuh?)
Ya diversifikasi aja Mbak. Kalau punya uang lebih, bisa ditaro di unitlink.
Mas, unit investasi dalam unitlink itu sama aja dengan reksadana. Jadi kalau mau diversifikasi bukan lewat unitlink, tapi di jenis instrument nya. Money Market, Fixed Income, Balance or Equity. Jadi diversifikasi bukan liat di struktur asuransi yang digabungkan dengan unit investasi reksadana dong. It doesn’t make sense.
Ya tapi kan gak semua orang seperti Mbak Wina…
Lho, kenapa gak? Tell me : Why not?  Coba kasih alasan yang bener.  Kenapa kita semua gak bisa bikin Financial Plan yang komprehensif – yang lengkap – yang betul-betul memperhatikan semua kebutuhan keluarga kita? Kenapa kita semua gak bisa membuat diri lebih pintar supaya bisa mengerti semua isi dagangan produk-produk investasi atau asuransi yang sedang ditawarkan di depan mata kita? Kenapa kita semua gak bisa membeli produk keuangan dengan lebih efisien, sehingga gak bayar fee kebanyakan, gak beli produk yang underperforming, dan bisa mencapai lebih banyak tujuan finansial dengan lebih cepat? Gak ada kan alasan supaya kita gak bisa begitu?
Tell me why I need this??? :? Seriously…
Listen up! Let’s say this together… out loud…
You ARE smart! You continuously gain more knowledge on investment. Check out the numbers and let the numbers speak to you…

Numbers don’t lie!
Ligwina Hananto



SUMMARY FINCLIC 3 OCTOBER TENTANG ASURANSI JIWA
Berikut merupakan summary tweet #FinClic Kamis, 3 Oktober 2013 tentang Asuransi Jiwa:
Senin kemarin gw pergi dengan keluarga jadi gak bisa #FinClic :) Boro-boro FinClic, pegang henpon aja gak hahaha
RT @QM_Financial: Beberapa artikel tentang Asuransi Jiwa yang dibahas @mrshananto barusan di @811Show : Asji seperti apa? http://qmfinancial.com/apakah-asuransi-jiwa-yang-sebaiknya-saya-miliki/ …
Kapan perlu Asuransi Jiwa? Coba pikirinnya gini… kalau kita meninggal dunia, ada gak orang yang jadi gak bisa makan karena kita gak ada? #FinClic
Coba pikirin… apa iya orang-orang yang hidupnya bergantung pada kita akan terlantar begitu aja? Kalau sayang, mau siapkan apa? #FinClic
Jangan ‘anti asuransi’ dulu. Fokus gw kan bukan jualan asuransinya. Balik lagi ke pertanyaan : apa yang udah lo siapin buat keluarga? #FinClic
Kalau terjadi meninggal dunia, istri dan anak (atau orangtua) makan pakai apa? Yang harus disiapkan adalah peninggalan untuk dipakai oleh mereka #FinClic
Oh sudah siapkan BISNIS! Bisnisnya bergantung sama lo apa gak? Kalau bisnis gw sih ya, 50% deh masih bergantung sama gw. Jadi gak cukup #FinClic
Oh sudah siapkan Properti yang disewakan! Nah Propertinya sudah dibangun? Sudah dihitung hasil sewanya cukup untuk makan atau gak? #FinClic
Atau… udah punya surat berharga! Menghasilkan Rp10juta per bulan! Tapi tahun depan belum tentu segitu ya. Kan inflasi juga? #FinClic
Jadi kalau tidak mau beli Asuransi Jiwa, pastikan sudah punya Aset Aktif (Bisnis Properti SuratBerharga) yang bisa support makan keluarga #FinClic
Masalahnya,di usia produktif 30-40tahunan, memang sudah punya Bisnis, Properti, Surat Berharga yang menghasilkan cukup untuk makan? #FinClic
Kebanyakan orang usia produktif 30-40tahunan baru di tahap “Wealth Accummulation”. Boro-boro Aset Aktif, punya rumah sendiri pun dicicil #FinClic
Punya tanggungan gak? Ada orang yang gak makan kalau kita meninggal dunia! Kalau gak ada, gak perlu AsJi. Kalau ada, udah siapin AsJi belum? #FinClic
Gimana caranya memilih Asuransi Jiwa? Pertama kenalan dulu ya ada istilah Polis, Premi, Lama Pertanggungan, Uang Pertanggungan. #FinClic
Polis itu semacam kontraknya. Perjanjian kalau terjadi meninggal pada yang TERTANGGUNG dalam Polis, perusahaan Asuransi akan bayar Uang Pertanggungan #FinClic
Maka, pastikan Tertanggung-nya memang pemberi nafkah keluarga. Bisa Bapak, bisa Ibu, kadang-kadang Anak kalau sudah dewasa #FinClic
Cek ya! Asuransi Jiwa kalau nama Tertanggungnya ternyata bukan pemberi nafkah keluarga. Misalnya : Ibu Rumah Tangga atau Anak kecil #FinClic
Itu namanya Asuransi Kesehatan RT @NonaDeasy : beli AsJi untuk perlindungan kalau mesti opname karena dana darurat terbatas, ga pa pa teh? Ga mau repotin ortu
Berikutnya. Cek jenis Asuransi Jiwanya! Whole Life (WL) dicover s/d 99tahun, Term Life (TL) untuk periode 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun, 20 tahun #FinClic
Whole Life (WL) biasanya bayar cuma 10 tahun, 3 tahun pertama hangus. Tapi setelah itu kalau ditutup ada Nilai Tunai Asuransi yang bisa ditarik. #FinClic
Jadi kalau Whole Life cover sampe dengan umur 99 tahun, waktu umur 55 tahun kita merasa “ah mau tutup aja asuransinya”, bisa ambil “Nilai Tunai” #FinClic
Beda dengan Term Life yang hanya selama periode coverage dan hangus total! Jadi kalau gak meninggal, mau ditutup pun, gak ada nilai apa-apa #FinClic
Sejarah Asuransi Jiwa itu di Inggris disebut Penny Policy. Dulu orang begitu miskinnya, meninggal pun kuatir gak bisa dikubur layak! #FinClic
Dulu di Inggris orang miskin meninggal bisa-bisa cuma ditaro di pinggir jalan. Dengan “penny policy”= asuransi jiwa bisa bayar biaya pemakaman #FinClic
Whole Life yang cover sampai umur 99 tahun itu ceritanya karena di Amerika Serikat ada ‘pajak warisan’. Uang Pertanggungan ini untuk bayar sebagian pajak #FinClic
Di Indonesia ada beberapa budaya yang biaya pemakaman mahal sekali. Untuk yang Muslim harusnya dari Dana Darurat cukup. Punya gak Dana Darurat? :p #FinClic
Di Indonesia, saat ini gak ada pajak atas warisan. Pajak yang ada pada rumah warisan pun karena pajak properti. Jadi Whole Life gak relevan #FinClic
Tapi, kalau beli Term Life kan hangus total! Berarti RUGI? Apa beli Whole Life aja? Kalau mau diambil ada Nilai Tunai kan? Yuk bandingkan #FinClic
Umur < 30 tahun, UP= Rp1Milyar. Term Life 10 tahun, premi Rp2,7juta per tahun.  WholeLife s/d 99 tahun, premi Rp15juta per tahun. Term Life hangus total. Whole Life hangus 3 tahun pertama #FinClic
Kebayang gak? Beli Whole Life Rp15juta per tahun, beli Term Life Rp2,7juta per tahun. Strateginya: beli Term Life aja Rp2,7juta per tahun sisa budget 12,3jt/thn bisa investasi #FinClic
Asuransi murni seperti Whole Life dan Term Life ini susah dicari? Sebetulnya gak susah sih. Cuma gak agresif aja :)) komisinya gak setinggi Unit Link :) #FinClic
Berarti beli Whole Life dan Term Life sama-sama ada ‘hangus’? YES. Jadi gak UNTUNG? Memang beli Asuransi Jiwa bukan untuk UNTUNG! #FinClic
Ada #FinClicSeries “All About Insurance” ya! Rabu 23 Oktober! Daftarnya ke : event@qmfinancial.com Rp250.000/orang/kelas
Beli Asuransi memang bukan untuk ‘UNTUNG’. Kan kita beli ‘Perlindungan’. Seperti beli payung, kalau gak dipake, ya tetap disimpan #FinClic
Kalau gak mau beli Asuransi? Ya pikirin, siapa yang akan ngurus pembayaran kalau sakit dan ngurus uang makan kalau meninggal? #FinClic
Tolong jangan bilang “Allah yang menjamin” ya. Di Islam pun sangat dianjurkan memastikan anak istri gak terlantar untuk 1 tahun! #FinClic
Maka untuk orang yang menolak beli Asuransi Jiwa dengan alasan agama, gw sarankan ikuti aturan “jangan terlantarkan anak istri untuk 1 tahun” #FinClic
Kalau menolak beli Asuransi Jiwa, tolong siapkan dana untuk biaya hidup anak istri untuk 1 tahun ke depan. Secured, liquid#FinClic
Jadi dalam PLAN di @QM_Financial Asuransi Jiwa yang paling sering disarankan itu Term Life. Periodenya bisa 10 tahun, 15 tahun atau 20 tahun #FinClic
Berapa lama periode Term Life yang kita butuhkan? Bisa hitung dari lama usia produktif atau umur anak terkecil #FinClic
Contoh. Bapak umur 28 tahun, beli Asuransi Jiwa Term Life 10 tahun saja. Karena kalau beli 20 tahun gak sanggup preminya dan karir masih berkembang #FinClic
RT @bahagia_sejati: nah kan apa yang dibilang @mrshananto dengan apa yang gw bilang ke @nih_na sama, kalau asuransi itu bukan untuk cari UNTUNG tp bkn berarti buntung jg ya
Waktu si Bapak umur 32 ternyata karirnya berubah, itungan Uang Pertanggungan berbeda jauh. Maka beli Term Life baru dengan Uang Pertanggungan lebih besar #FinClic
RT @tiwtow: Ada di al baqarah RT @mrshananto: Tolong jangan bilang “Allah yang menjamin” ya. Di Islam pun sangat dianjurkan memastikan anak istri gak terlantar untuk 1 tahun! #FinClic
Waktu si Bapak umur 35 baru perlu Term Life 20 tahun. Kelemahan: dengan umur bertambah, risiko penyakit lebih besar, biaya premi lebih besar #FinClic
Gw sendiri baru punya Asuransi Jiwa waktu hamil Demi. Karena sebelumnya suami gw kerja full time dan dia yang punya asuransi jiwa. #FinClic
Dengan anak bertambah, asuransi jiwa gw pun dihitung untuk support anak bungsu. Asuransi Jiwa Term Life umur 35 UP Rp2M, premi = 6 juta per tahun #FinClic
Gw pernah ketemu kasus Ibu yang umur 40 tahun. Usia produktif berarti s/d 55 tahun. Tapi anak bungsu sudah umur 15 tahun. Asji Term Life 5 tahun atau 10 tahun #FinClic
Standarnya perlu Asji Term Life 20 tahun untuk cover periode umur 35-55 tahun. Setelah 55 tahun tidak ada lagi Asji, tapi kan bikin Dana Pensiun. Dana  Pensiun > Uang Pertanggungan lho #FinClic
Terakhir, mari menghitung Uang Pertanggungan! Ini contoh kalkulatornya :http://tujuanloapa.qmfinancial.com/index.php/page/dana-proteksi/ … #FinClic
Golongan menengah gaji 10jutaan harusnya punya Uang Pertanggungan (UP) sekitar 1 Milyar. Ayo periksa AsJi masing-masing UP-nya berapa #FinClic
Jangan sampai punya Asji UP-nya lebih murah dari harga mobilmu! UP ini jumlah uang yang akan dipakai keluarga bertahan hidup #FinClic
Segitu dulu ya #FinClic tentang Asuransi Jiwa! Gw sekarang mau meeting :)) Jangan lupa ada #FinClicSeries “All About Insurance” 23 OKT!
Ligwina Hananto| Independent Financial Planner| @mrshananto